Showing posts with label Artikel Mojokerto. Show all posts
Showing posts with label Artikel Mojokerto. Show all posts

Sunday, May 24, 2009

Wisata Sejarah Budaya : Bangunan- Bangunan Peninggalan Kerajaan Majapahit

Anda menyukai wisata sejarah budaya ? Suka melihat keindahan seni arsitektur bangunan-bangunan peninggalan masa lalu ? Berkunjunglah ke kabupaten Mojokerto, sebuah kota kecil yang terletak sekitar 45 kilometer arah barat daya dari Kota Surabaya, Ibukota Propinsi Jawa Timur.

Sekalipun termasuk kategori kota kecil, Kabupaten Mojokerto terus berbenah secara dinamis dari waktu ke waktu. Selain itu Kabupaten Mojokerto menyimpan sebuah misteri dari sebuah Kemaharajaan Agung yang turut mewarnai perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia.


Anda tentu paham yang dimaksud dari Kemaharajaan Agung bukan ? Ya, kerajaan Majapahit…sebuah kerajaan hindu yang amat terkenal lantaran mampu mempersatukan seluruh wilayah Nusantara bahkan sebagian dari wilayah Asia Tenggara. Besarnya wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit tentunya berimbas pula pada betapa makmur dan majunya peradaban di wilayah Antawulan, Ibukota kerajaan Majapahit yang sekarang dikenal dengan nama Trowulan. Istilah Bhinneka Tunggal Ika, nama satelit Palapa adalah sebagian “Peninggalan Majapahit” yang masih kita gunakan hingga saat ini. Surya Majapahit, lambang dari kerajaan ini juga masih sering digunakan sebagai ornamen bangunan rumah oleh sebagian penggemar langgam arsitektur Majapahit.

Banyak sekali bangunan-bangunan bersejarah yang masih dapat kita lihat hingga saat ini, terutama di wilayah kecamatan Trowulan yang dulu merupakan ibukota kerajaan Majapahit. Wujud bangunan yang masih tersisa antara lain berupa bangunan candi, pintu gerbang kerajaan, kolam pemandian, bangunan reservoir air, bangunan waduk, bangunan kanal, sumur kuno, makam kuno, sisa bangunan pendapa, sisa pemukiman kuno hingga sisa bangunan rumah.

Selain peninggalan berupa bangunan, ratusan ribu artefak Majapahit berupa koin mata uang, batu bata, batu umpak, batu lumpang, genting, pecahan tembikar, celengan hingga keramik cina tersebar di seluruh penjuru Trowulan dalam cakupan areal seluas kira-kira 10 x 11 km dan masih sering ditemukan oleh penduduk sampai sekarang.

Jika anda hendak ke Trowulan caranya sangat mudah karena berada di tepi jalur utama Surabaya-Solo, kira-kira hanya sekitar 1 jam ditempuh dengan bus dari terminal Bungurasih. Anda bisa turun di terminal Kertajaya Mojokerto lalu pindah naik angkot atau memilih langsung turun di perempatan lampu merah Trowulan. Dari sana sudah banyak petunjuk arah menuju obyek wisata sejarah kerajaan Majapahit.



Namun jika anda ingin lebih leluasa dalam menelusuri semua bangunan tersebut, ada baiknya anda membawa kendaraan pribadi lantaran begitu banyaknya situs yang tersebar di sana.
Bangunan-bangunan bersejarah peninggalan kerajaan Majapahit yang ada di sekitar Trowulan antara lain :

1.Candi Wringin Lawang
Berupa bangunan gapura agung dari bahan bata merah dengan luas dasar 13 x 11 meter dan tinggi 15,5 meter dengan arsitektur candi bentar atau “candi terbelah” yang sampai sekarang sering diaplikasikan dalam gaya arsitektur Bali. Fungsi utama bangunan ini diduga adalah sebagai pintu gerbang menuju kawasan utama di ibukota kerajaan Majapahit. Lokasinya sangat mudah dijangkau karena terlihat dari jalan utama Surabaya-Solo, tepatnya di daerah Brangkal, sebelum memasuki wilayah Trowulan.


2.Candi Brahu
Berlokasi di kawasan Bejijong, Trowulan yang sekarang merupakan sentra pengrajin Kuningan dan Patung Batu. Candi Brahu adalah bangunan suci peribadatan yang dipergunakan untuk memuliakan anggota keluarga kerajaan yang telah wafat. Konon 4 raja pertama kerajaan Majapahit yang wafat diperabukan/dikremasi di kompleks bangunan candi Brahu.


3.Candi Gentong
Candi ini masih dalam tahap restorasi, sehingga wujudnya masih berupa reruntuhan bangunan yang belum bisa dinikmati dengan nyaman. Lokasinya sendiri berdekatan dengan candi Brahu.


4.Candi Tikus
Adalah kolam pemandian ritual (petirtaan) yang berbentuk bangunan kolam bujur sangkar berukuran 22,5 meter x 22,5 meter dengan arsitektur teras-teras persegi yang dimahkotai menara-menara yang ditata dalam susunan konsentris yang menjadi titik tertinggi bangunan ini. Pada sisi utara terdapat sebuah tangga menuju dasar bangunan kolam. Struktur utama yang menonjol dari dinding selatan diperkirakan mengambil bentuk gunung legendaris Mahameru. Konon dulunya kolam ini dipergunakan sebagai tempat pemandian putri raja-raja Majapahit. Nama Candi Tikus sendiri diambil lantaran dulunya lokasi ini menjadi sarang tikus yang sering menjadi gangguan hama bagi sawah milik penduduk.


5.Candi Bajang Ratu
Lokasi Candi Bajang Ratu berdekatan dengan Candi Tikus, berupa bangunan ramping nan anggun dengan arsitektur gapura paduraksa setinggi 16,5 meter. Pada bagian atap terdapat aksesoris bangunan yang menampilkan ukiran hiasan rumit/detail. Nama Bajang Ratu dalam bahasa jawa berarti “Raja Kecil” dikaitkan masyarakat dengan raja kedua Majapahit yaitu Jayanegara. Konon Jaya negara pernah jatuh saat kecil di tempat ini, sedang yang lain beranggapan karena Raja Jayanegara naik tahta dalam usia sangat muda. Sejarawan sendiri mengkaitkan bangunan Candi Bajang Ratu sebagai penghormatan bagi Raja Jayanegara yang wafat tahun 1328 M.


6.Candi Kedaton
Candi Kedaton masih dalam tahap restorasi hingga kini, karena wujudnya masih berupa misteri yang sulit dipecahkan. Pada komplek candi ini terdapat beberapa bangunan berupa candi, sumur upas, lorong rahasia, mulut gua, dan makam Islam. Para ahli sejarah masih berupaya menyingkap misteri untuk menemukan bentuk bangunan candi ini. Namun ada dugaan bahwa daerah Kedaton, dahulu merupakan kompleks ibukota pada masa-masa Majapahit akhir.

7.Candi Minak Jinggo
Bangunan yang terletak didekat Kolam Segaran ini hanya tersisa reruntuhannya saja, memiliki bentuk unik berupa kombinasi bahan batu andesit di bagian luar dan baru bata di bagian dalam. Di candi ini ditemukan arca unik berwujud ukiran makhluk ajaib yang diidentifikasi sebagai Qilin, makhluk ajaib dalam mitologi China. Adanya penemuan arca ini mennjadi isyarat kuat bahwa terdapat hubungan budaya yang cukup kuat antara kerajaan Majapahit dengan Dinasti Ming di China. Candi ini memiliki keterkaitan sangat erat dengan legenda rakyat Damar Wulan dan Menak Jinggo.

8.Candi Grinting
Candi yang berlokasi di dusun Grinting, desa karang jeruk kecamatan Jatirejo ini belum banyak diketahui umum. Informasi yang diperoleh tentang wujud bangunan candi juga belum banyak, selain sisa pondasi bangunan yang ditemukan oleh pembuat batu bata.

9.Pendopo Agung
Bangunan ini dulunya berupa penemuan umpak-umpak besar yang diduga sisa dari sebuah bangunan pendapa agung, tempat raja Majapahit menemui tamu-tamu kerajaan, letaknya juga di dekat Kolam Segaran. Sekarang lokasi ini sudah dipugar oleh pihak Kodam V Brawijaya menjadi bangunan pendapa yang nyaman untuk dikunjungi. Dibelakang bangunan ini terdapat batu miring, yang konon menjadi tempat Mahapatih Gajah Mada mengikrarkan Sumpah Palapa. Selain itu juga terdapat kompleks makam dan petilasan Raden Wijaya, pendiri kerajaan Majapahit yang ramai dikunjungi oleh peziarah dan “konon” kalangan pejabat yang ingin terkabul maksudnya terutama pada malam Jum’at.


10.Kolam Segaran
Adalah bangunan monumental berupa kolam besar dari batu bata, berbentuk persegi panjang dengan ukuran 800 x 500 meter persegi. Kedalaman Kolam Segaran sekitar 3 meter dengan tebal dinding 1,6 meter. Nama Segaran berasal dari bahasa Jawa 'segara' yang berarti 'laut', mungkin masyarakat setempat mengibaratkan kolam besar ini sebagai miniatur laut. Diduga fungsi kolam ini adalah sebagai reservoir air bagi pemukiman penduduk kerajaan Majapahit yang padat, atau sebagai tempat latihan renang bagi prajurit kerajaan. Dugaan lain adalah sebagai tempat hiburan menjamu tamu-tamu kerajaan, dimana mereka dijamu di tepi kolam dengan perlengkapan makan dari emas dan perak, lalu sesuai acara perjamuan peralatan nan mahal ini dilemparkan ke tengah-tengah kolam untuk menunjukkan betapa makmurnya kerajaan Majapahit.


11.Situs Lantai Segi Enam
Situs berupa sisa-sisa bangunan rumah ini memiliki keunikan tersendiri lantaran ditemukannya hamparan lantai kuno berupa paving blok berbentuk segi enam dari bahan tanah liat bakar yang dibuat halus, berukuran 34 x 29 x 6.5 cm. Pada situs kita bisa melihat sisa lantai, sisa dinding dan beberapa perabot dari bahan tembikar seperti gentong dan pot tanah liat. Diduga dulu situs yang terletak 500 m selatan Pendopo Agung ini merupakan bagian dari kompleks bangunan kerajaan, atau mungkin pula bangunan milik bangsawan kerajaan Majapahit.


12.Alun-Alun Watu Umpak
Situs ini terletak hanya sekitar 100 meter dari situs candi Kedaton, berupa kumpulan batu-batu umpak besar yang tersusun rapi. Diduga situs ini adalah bekas bangunan kerajaan Majapahit yang berkaitan pula dengan situs candi Kedaton.


13.Makam Putri Campa
Merupakan kompleks pemakaman Islam kuno di dekat Candi Menak Jinggo dengan fokus berupa makam putri Campa, yang konon adalah selir atau istri raja Majapahit periode akhir. Dari bentuk makam diperkirakan Putri Campa yang wafat tahun 1448 M menganut agama Islam, dan konon berhasil mengajak raja Majapahit terakhir untuk memeluk agama Islam. Seperti diketahui bahwa Raden Patah, pendiri kerajaan Demak yang notabene kerajaan Islam pertama di Jawa, adalah termasuk putra dari raja Brawijaya, raja Majapahit pada periode akhir.

14.Makam Troloyo
Merupakan kompleks pemakaman Islam kuno, dimana kebanyakan batu nisan disana berangka tahun 1350 dan 1478. Makam Troloyo membuktikan bahwa komunitas muslim bukan hanya telah ada di pulau Jawa pada pertengahan abad ke-14, tapi juga sebagai bukti bahwa agama Islam telah diakui dan dianut oleh sebagian kecil penduduk ibu kota Majapahit

15. Siti Inggil
Siti Inggil atau yang artinya Tanah Tinggi atau mungkin dikonotasikan dengan Tanah yang di-Agungkan terletak di dekat lokasi Candi Brahu. Konon Siti Inggil dulunya berupa punden yang pernah menjadi tempat pertapaan Raden Wijaya. Di lokasi ini terdapat situs berupa 2 buah makam yaitu makam Sapu Angin dan Sapu Jagat yang dikeramatkan oleh penduduk dan banyak dikunjungi oleh peziarah terutama saat malam Jumat.

Nah, selain dari daftar diatas masih banyak lagi lokasi-lokasi situs bersejarah yang tersebar di penjuru Kabupaten Mojokerto yang bisa anda kunjungi. Lebih jelas lagi bila anda menyempatkan diri untuk berkunjung ke Museum Trowulan, yang menyimpan puluhan ribu artefak peninggalan Majapahit. Kami tunggu kehadiran anda di sana …

Thursday, May 21, 2009

Menelurusi Jejak Arsitektur Bangunan di Masa Kerajaan Majapahit

Sebagai sebuah kerajaan besar yang berjaya pada sekitar abad 14-15 Masehi dengan kekuasaan mencakup seluruh nusantara, kerajaan Majapahit tentu juga akan memiliki peradaban yang cukup maju. Sebagai bukti adalah di kecamatan Trowulan-Kabupaten Mojokerto, sebuah daerah yang dulu menjadi pusat ibukota kerajaan Majapahit sangat kaya akan peninggalan bersejarah baik berupa bangunan-bangunan peninggalan kerajaan, saluran air, kolam, sisa bangunan rumah, maupun barang-barang bekas peralatan rumah tangga pada jaman itu.


Pertanyaannya adalah, bagaimana bentuk arsitektur bangunan pada saat itu ? Ada sebuah artikel yang cukup bagus dari Harian Umum PELITA yang mungkin bisa sedikit memberi pencerahan tentang bentuk bangunan-bangunan di masa kerajaan Majapahit. Untuk lebih jelasnya silahkan anda baca artikelnya di bawah ini:


Sisa "Rumah" Berlantai Enam di Situs Kota Kuno Trowulan, Situs Kota Kuno Trowulan

Telah cukup banyak ahli arkeologi yang tidak lagi menyangsikan bahwa Wilayah Trowulan, yang terletak sekitar 10 km dari Kota Mojokerto, merupakan sisa Kota Kuno Masa Majapahit (abad 14-15 Masehi). Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya ribuan bahkan ratusan ribu fragmen tembikar yang sebagian besar menunjukkan wadah-wadah yang biasa dipakai sehari-hari, seperti kendi, mangkuk, piring, cangkir, tempayan, serta puluhan jenis wadah lainnya. Demikian pula temuan arkeologi yang dikenal dengan terakota, memperlihatkan jumlah, bentuk, jenis, ukuran beraneka-rupa. Terakota yang terkenal dari Trowulan ini adalah celengan dengan bermacam bentuk dan ukuran, boneka-boneka terakota, serta miniatur bangunan "rumah."

Tinggalan lain yang juga sangat mendukung bahwa Trowulan merupakan bekas kota kuno adalah ditemukannya sisa-sisa bangunan, berupa bangunan-bangunan keagamaan seperti: candi, petirtaan, dll, juga sisa-sisa bangunan yang diinterpretasikan sebagai bangunan tempat tinggal atau bangunan bekas "rumah."

Tinggalan keramik asing dari berbagai negara (Cina, Vietnam, Thailand, Burma, dll) yang juga banyak ditemukan di situs ini memperlihatkan bahwa hubungan "kenegaraan" Majapahit dengan negara-negara asing pun telah dibina dengan baiknya, serta dalam jangka waktu yang tidak pendek.


Sekelumit Mengenai Awal Berdirinya Kerajaan Majapahit

Sumber-sumber sejarah yang menyebutkan asal mula berdirinya Majapahit cukup banyak jumlahnya. Sumber yang berasal dari dalam negeri terdiri dari prasasti dan berita yang terdapat dalam kesusastraan. Prasasti yang isinya dapat dipakai sebagai sumber keterangan peristiwa-peristiwa yang ada hubungan dengan kemunculan kerajaan Majapahit antara lain: Prasasti Gunung Butak atau Prasasti Kudadu (1294 M) dan Prasasti Sukamerta (1296 M); sedangkan sumber yang berupa hasil kesusastraan, yaitu: Nagarakrtagama dan Pararaton.

Di samping sumber dari dalam negeri, berita China dari Dinasti Yuan (1280-1367) memperkuat bukti bahwa apa yang disebut di dalam sumber-sumber dari dalam negeri memang merupakan suatu peristiwa sejarah.

Berdasarkan sumber-sumber data tekstual tersebut, dapat diuraikan secara ringkas bahwa Kertanegara, Raja Singasari terakhir, gugur pada tahun 1292 karena serangan Jayakatwang dari Kediri. Menantunya yaitu Raden Wijaya dengan beberapa pengiringnya dapat menyelamatkan diri ke Madura dan meminta bantuan adipati Sumenep bernama Wiraraja. Dengan bantuan Wiraraja, disusun rencana dengan cara Raden Wijaya menyerahkan diri ke Jayakatwang dan menghamba kepadanya. Setelah itu, Raden Wijaya memohon membuka hutan di wilayah Trik yang diluluskan Jayakatwang.

Mulailah hutan Trik dibuka dengan dibantu oleh orang-orang Madura. Tempat itu kemudian dinamakan Majapahit, dari sinilah Raden Wijaya mempersiapkan kekuatan untuk melawan kekuasaan Jayakatwang, yang akhirnya bisa ia kalahkan. Raden Wijaya kemudian dinobatkan menjadi Raja Majapahit pertama dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana, pada tahun 1293 M.


Perkiraan Bentuk-bentuk Bangunan "Rumah"

Sebagai bekas kota, tidaklah heran bahwa salah satu jenis tinggalan arkeologi yang banyak ditemukan di Situs Trowulan ini adalah sisa-sisa bangunan. Baik sisa-sisa struktur bata dalam bentuk bekas tembok atau dinding, serta batu-batu kali maupun tanah liat bakar yang membentuk sisa-sisa lantai. Temuan lainnya artefak berupa genteng yang juga dibuat dari tanah liat bakar. Banyak di antaranya masih dalam keadaan utuh, sehingga kita bisa tahu adanya berbagai bentuk genteng yang ada di wilayah Trowulan ini pada masa lalunya.

Artefak yang tidak kalah menariknya adalah tinggalan berupa miniatur bangunan "rumah" yang dibuat dari tanah liar bakar. Bangunan yang terlihat dari terakota tersebut memiliki tiga dimensi yang menggambarkan rumah lengkap dengan komponen bangunannya. Bentuk atap rumah yang digambarkan menunjukkan bentuk tajuk atau limasan, dengan penutup atap digambarkan dibuat dari berbagai bahan (sirap, genteng, dll).

Hasil penelitian T.P. Galestin tahun 1936, memberikan pengetahuan kepada kita mengenai bentuk-bentuk arsitektur bangunan hunian masa Majapahit di Jawa Timur, yang dalam hal ini termasuk juga bangunan di "Kota Trowulan." Secara garis besar dikatakan bahwa ada bangunan yang bertiang satu, empat, lima, enam, dan delapan, memiliki denah dasar berbentuk empat persegi panjang atau bujur sangkar, serta bentuk-bentuk atap berupa limasan atau kampung. Pengetahuannya itu didapat atas dasar penelitiannya terhadap relief-relief candi yang menggambarkan bentuk-bentuk "rumah" tinggal.

Penelitian Parmono Atmadi yang dipublikasikan pada tahun 1993 menyatakan bahwa rumah Majapahit dapat dibagi ke dalam tiga bentuk arsitektur, yaitu:
1) bentuk arsitektur Jawa Kuno berupa konstruksi kayu dengan tiang langsung berdiri di permukaan tanah, dan ada kolong di bawah lantai;
2) bentuk arsitektur Majapahit Lama, yaitu bangunan kayu yang berdiri pada batur, tetapi tidak mempunyai pemisah ruangan;
3) bentuk arsitektur Majapahit Akhir yang pada dasarnya memiliki kemiripan dengan bentuk arsitektur Majapahit Lama, tetapi pada konstruksi ini telah dikenal adanya pemisahan ruangan.

Tahun 1999, dalam tesis S2nya Osrifoel Oesman yang telah melakukan analisis pada beberapa sisa-sisa struktur bangunan yang ditemukan di Situs Trowulan, menuliskan sketsa bangunan hunian Masa Majapahit, yang dibaginya ke dalam 3 bagian, yaitu:
1. kaki bangunan
2. badan bangunan
3. kepala bangunan
Menurutnya bangunan ada yang berdiri di atas batur tanpa umpak atau dengan umpak, serta tanpa batur dengan umpak langsung berdiri di tanah, serta bangunan tanpa batur dan umpak. Badan bangunan ada yang memperlihatkan dinding terbuka, setengah terbuka, dan dinding yang tertutup. Kepala bangunan, dengan atap berbentuk limasan, kampung, tajuk, dan pangang-pe.

Bangunan "Rumah" Berlantai Segi Enam

Salah satu lokasi temuan sisa struktur bangunan yang cukup penting di wilayah Situs Trowulan, adalah area tempat ditemukannya lantai yang memiliki bentuk khusus, yaitu lantai berbentuk segi enam. Lokasi temuan "sisi rumah" berlantai berbentuk segi enam itu berada di Dukuh Kedaton, Desa Sentonorejo, yang masih berada dalam wilayah Situs Trowulan.

Tempat ini pertama kali ditemukan oleh seorang penduduk pada tahun 1982, pada saat ia sedang menggali perkarangan belakang rumahnya. Berdasarkan laporan adanya temuan tersebut, maka dilakukan ekskavasi penyelamatan pada tahun 1982, 1984, dan 1985 oleh Proyek Pemugaran Kota Majapahit dan SPSP Jawa Timur.

Hasil pembukaan kotak sebanyak 22 buah dapat diketahui bahwa wilayah yang mengandung temuan sisa-sisa struktur bangunan ini memiliki ukuran luas sekitar 12,50 m x 12,50 meter. Temuan-temuan hasil ekskavasi dapat dilihat masih dalam keadaan in-situ.

Dari sisa-sisa bangunan yang ada, yang paling menarik adalah susunan lantai bata yang masih tersusun rapih, terpasang dari bata-bata yang berbentuk segi enam. Lantai bata segi enam tersebut memiliki ukuran panjang sisi-sisi luasnya: 17 cm, dan tebal sekitar 6 cm, disusun dengan jarak antara dua-sisi-sisi luar bata rata-rata 30 x 30 cm.

Di samping susunan lantai segi enam, ditemukan pula susunan lantai berbentuk segi empat, serta susunan struktur bata dengan ukuran yang berbeda-beda, berukuran panjang antara satu setengah hingga dua setengah meter, lebar sekitar 60 cm, serta terdiri dari susunan 5-7 bata yang masing-masing memiliki ukuran tebal sekitar 15-20 cm. Di situs ini pun ditemukan beberapa umpak batu yang dibuat dari batuan andesit, berbentuk limas terpancung.

Berdasarkan sisa struktur bangunan yang ditemukan di situs ini, diperkirakan bahwa bangunan "rumah" memiliki ukuran yang cukup luas, dengan denah bangunan berpola geometris dan berbentuk persegi panjang. Lantai bata berbentuk segi enam dan segi empat, yang dibuat dari bata. Bangunan mempunyai tiang yang diletakkan di atas umpak batu berukuran besar, di mana umpak tersebut berdiri di atas lantai. Sayangnya belum dapat diketahui arah hadap maupun ruang-ruang pemisah dari "rumah" berlantai segi enam ini.


Penutup


Adanya temuan-temuan arkeologi yang menggambarkan sisa-sisa pemukiman kota, menjadikan Situs Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur merupakan situs yang cukup penting. Bahkan dari semua kerajaan-kerajaan masa Hindu-Buddha di Indonesia, hanya kerajaan terakhir, yaitu Kerajaan Majapahit yang meninggalkan sisa bangunan-bangunan hunian di Situs Trowulan.

Tampaknya Situs Trowulan dalam perjalanan sejarahnya mengalami proses penurunan kualitas secara terus menerus akibat rusak dan berkurangnya tinggalan arkeologis yang ada. Faktor penyebab terjadinya tersebut bisa bermacam-macam. Secara garis besar dapat dibedakan akibat dua faktor, yaitu faktor alam dan faktor tangan-tangan manusia. Faktor kedua ini tampaknya yang paling intensif merusakkannya, misalnya pembukaan areal sawah, dan seperti yang banyak terjadi yaitu pengerukan tanah guna pembuatan batu bata. Tampaknya kita memang harus berlomba dengan mereka dalam usaha "menyelamatkan" Situs Kota Kuno Trowulan ini.
(Y. Eriawati, Pusat Penelitian Arkeologi/Proyek Pemanfaatan Kebudayaan)

Tuesday, May 19, 2009

Konsep Kota Air, Telah Diterapkan Pada Ibukota Majapahit ?

Kita sebagai bangsa Indonesia pasti sudah akrab dengan nama kerajaan Majapahit, sebuah kerajaan besar di abad 14 yang mampu mempersatukan nusantara setelah runtuhya kekuasaan kerajaan Mataram Kuno dan kerajaan Sriwijaya. Majapahit juga tidak lepas dari nama Mahapatih Gajah Mada yang terkenal dengan pengucapan sumpah Palapa-nya pada tahun 1334 : "Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukita palapa. Sira Gajah Mada lamun huwus kalah Nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, ring Doran, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang,Tumasik, samana ingsun amukti Palapa".


Seusai pengucapan sumpah tersebut, berangkatlah ekspedisi maritim tentara kerajaan Majapahit yang akhirnya berhasil memperluas kekuasaan kerajaan Majapahit hingga ke penjuru Asia Tenggara. Jika Tipologi kerajaan Mataram Kuno merupakan kerajaan Agraris dan Sriwijaya adalah kerajaan Maritim, maka kerajaan Majapahit adalah perpaduan diantara keduanya.

Faktanya adalah, bahwa pusat kerajaan Majapahit terletak di daerah Trowulan, sekitar 10 kilometer tenggara kota Mojokerto merupakan kawasan lembah sungai Brantas yang amat subur bagi lahan pertanian. Namun semua juga mengakui bahwa kerajaan Majapahit memiliki armada maritim yang cukup kuat untuk mempersatukan kekuasaan di seluruh wilayah nusantara, bahkan asia tenggara.

Sebuah pertanyaan besar adalah, bagaimana sebuah kerajaan yang tidak berlokasi di tepi pantai mampu memiliki armada maritim yang begitu kuatnya hingga menguasai penjuru wilayah nusantara ? Bagaimana sistem penataan kotanya ? Ada baiknya kita membaca sebuah cuplikan dari artikel yang pernah dimuat di bali post co.id sebagai berikut :



Untuk dapat mempersatukan beberapa daerah dari sejumlah pulau, maka Majapahit kemudian membentuk armada laut. Dengan armada laut yang kuat, Majapahit berhasil menaklukkan beberapa wilayah dan mempersatukannya dalam konsep negara kesatuan Nusantara di bawah Kerajaan Majapahit.

Melihat kenyataan bahwa Majapahit memiliki armada laut yang kuat, maka sangatlah mustahil apabila pusat Kerajaan Majapahit tidak memiliki akses ke laut, meskipun pusat kerajaan ini agak jauh ke pedalaman. Selain itu, pada saat Majapahit masih berdiri, sarana perhubungan darat masih sukar, sehingga Majapahit pastilah mempunyai sarana-prasarana perhubungan air dan memiliki akses ke laut. Tetapi dalam denah Kota Majapahit yang dibuat oleh Ir. Maclaine Pont (dosen ITB zaman belanda), sama sekali tidak terlihat adanya sirkulasi perhubungan air di denah Kota Majapahit. Denah yang dibuat Maclaine Pont itu merupakan hasil pengamatan lapangan dan interpretasi dari Kitab Negara Kerthagama, yang ditemukan di Puri Cakranegara - Lombok oleh Belanda, 19 November 1894.

Akhirnya konsep Kota Majapahit yang memiliki kanal-kanal air untuk sarana perhubungan yang memiliki akses ke laut baru ditemukan pada dekade 1980-an, dalam penelitian yang memanfaatkan teknik penginderaan jauh dan geofisikal untuk investarisasi dan pemetaan peninggalan purbakala di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Penelitian ini melibatkan Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan nasional, Direktorat Sejarah dan Purbakala Depdikbud, UGM, ITB, serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional.

Perbandingan hasil penafsiran foto udara dengan peta-peta rekonstruksi Kerajaan Majapahit yang terlebih dahulu, memberikan kesan bahwa penelitian-penelitian terdahulu lebih terpaku pada penemuan kolam Segaran yang dianggap sebagai pusat kota dan kurang memahami kemampuan arsitek-arsitek Majapahit dalam membangun arsitektur Kota Majapahit. Dari hasil penelitian yang memanfaakan penginderaan jarak jauh, dapat diketahui bahwa arsitek-arsitek Majapahit telah membuat kanal-kanal sebagai saluran lalu-lintas lintas air di dalam kota.

Kanal-kanal air ini memiliki pola jalur-jalur yang potong-memotong tegak lurus, dengan arah utara-selatan dan arah timur-barat. Jalur air ini mempunyai lebar 20-30 meter dan kedalaman 4 meter. Di kiri-kanan jalur air ini terdapat sisa-sisa batu-bata, yang menunjukkan batas sepi saluran dan bekas-bekas bangunan. Sedangkan air untuk mengisi saluran ini berasal dari sungai-sungai di daerah selatannya, antara lain sungai Brangkal dan jalan keluarnya adalah lewat saluran ke barat sungai tersebut, kemudian menuju sungai Brantas. Jalur-jalur tersebut juga berhubungan dengan sungai Gunting (anak sungai Brantas) yang mengalir melalui tepi timur dan utara Kota Mojoagung.

Untuk memperkuat hasil penelitian tentang konsep ''kota air'' Majapahit, maka perlu dikaji kitab Negara Kerthagama sebab, dalam di situ antara lain disenyebutkan, bahwa tamu-tamu yang datang ke Majapahit adalah lewat gerbang sebelah barat (Pura Waktra). Dari foto udara dan observasi lapangan yang dilakukan tim peneliti, ternyata terdapat suatu daerah yang merupakan hutan kecil yang dianggap penduduk sangat angker, kemungkinan tempat inilah merupakan bekas lokasi pintu gerbang tersebut.

Dalam Negara Kerthagama juga disebutkan, keraton Majapahit dikelilingi tembok dan di luar tembok terdapat kolam air. Sisa kolam ini masih dapat dilihat di sebelah barat desa Kedaton. Di pinggir desa ini juga ditemukan bekas tembok tebal dan di luar tembok inilah terdapat bekas-bekas kanal air, yang merupakan sarana lalu-lintas air menuju sungai yang memiliki akses ke laut Jawa. Selain itu, dalam Negara Kerthagama juga disebutkan, barang-barang yang akan dibawa ke Majapahit diturunkan di pelabuhan besar dan diangkut ke keraton menggunakan kapal-kapal kecil. Dari uraian ini sudah jelas, bahwa pastilah ada saluran lalu-lintas air yang menghubungkan pelabuhan dengan pusat kota kerajaan. Apalagi Majapahit merupakan kerajaan yang memiliki armada laut yang kuat, sangat mustahil pusat kerajaannya yang berada agak ke pedalaman tidak memiliki saluran lalu-lintas air yang memiliki akses ke laut.

Nah, agaknya kita sebagai bangsa Indonesia patut bangga bahwa kerajaan Majapahit, sebuah kerajaan besar di nusantara pada abad 14 masehi pernah menguasai teknologi bangunan air dan tata kota yang cukup maju pada kala itu.